Bank Syariah Dalam Memitigasi Risiko Pembiayaan Bagi Nasabah Dimasa Pandemi

Disusun oleh : Rizal Taupik Firmansyah

 Sekolah Tinggi Ekonomi Islam SEBI (STEI SEBI)

NIM : 41802043

BAGAIMANA BANK SYARIAH DALAM MEMITIGASI RISIKO PEMBIAYAAN BAGI NASABAH DIMASA PANDEMI INI”

    Dimasa pandemic COVID 19 seperti saat ini tentu saja menyita banyak perhatian dan imbas nya berbagai sector bisnis di dunia ini mengalami maju mundur kegiatan nya, sehingga perlakuan pembatasan untuk mobilitas kegiatan masyarakat pun sangat terbatas. Karena , satu sisi untuk menekan laju penyebaran atas virus itu sendiri. Dan disini peran sector keuangan sangat vital didalam nya terkhusus adalah perbankan disini kita membahas mengenai perbankan syariah. dimasa pandemic ini perbankan syariah tentu saja sangat hati hati untuk menyalurkan pembiayaan kepada nasabah, karena dikhawatirkan terjadi one prestation atau gagal bayar. Mengacu pada pengertian yang dikeluarkan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Otoritas Jasa Keuangan masih meng­guna­kan istilah risiko kredit terkait penerapan manajemen risiko bagi Bank Umum Syariah dan Unit Usaha Syariah. Pengaturan masalah ini dapat ditemukan dalam POJK No.65/POJK.3/2016 ten­tang Penerapan Manajemen Risiko bagi Bank Umum Syariah dan Unit Usaha Syariah. Menurut Ikatan Bankir Indonesia (2014) Risiko kredit adalah eksposur yang timbul sebagai akibat kegagalan pihak lawan (counterparty) memenuhi kewajibannya. Disatu sisi risiko ini dapat bersumber dari berbagai aktivitas fungsional bank seperti penyaluran pinjaman, kegiatan treasuri dan investasi dan kegiatan jasa pembiayaan perdagangan, yang tercatat dalam buku bank.

    Di sisi lain risiko ini timbul karena kinerja satu atau lebih debitur yang buruk.Kegiatan usaha perbankan syariah tidak terlepas dari risiko yang dapat mengganggu kelangsungan bank. Untuk mengelola risiko tersebut bank wajib menerapkan manajemen risiko secara individu dan secara konsolidasi. Karakteristik produk dan jasa perbankan syariah memerlukan fungsi identifikasi, pengukuran, pemantauan, dan pengen­dalian risiko yang sesuai dengan kegiatan usaha perbankan syariah. Risiko diartikan sebagai potensi kerugian akibat terjadinya suatu peristiwa tertentu. Salah satu jenis risiko yang diatur oleh regulator dalam penerapan manaje­men risiko perbankan adalah risiko kredit. Risiko kredit timbul akibat kegagalan nasabah atau pihak lain dalam memenuhi kewajiban kepada Bank sesuai dengan perjanjian yang disepakati. Termasuk dalam pengertian risiko kredit akibat kegagalan debitur, risiko konsentrasi kredit, counterparty credit risk dan settlement risk. Sejatinya bank syariah ini adalah bisnis trust atau kepercayaan maka tidak salah juga jika selalu ketat untuk proses pembiayaan jika mengajukan kepada bank syariah itu sendiri. Dengan hal ini tingkat kehai-hatian nya antara pihak bank itu sangat tinggi.

   Dalam praktek perbankan dikenal berbagai jenis transaksi yang berlangsung dalam akad pembiayaan. Beberapa diantaranya adalah transaksi jual beli yang diterapkan salah satu contoh nya adalah akad murabahah. Dalam akad murabahah, Bank membe­li barang kemudian dijual kembali kepada nasabah dengan harga pokok ditambah dengan margin yang disepakati. Khusus untuk transaksi murabahah dengan pesanan yang sifatnya mengikat, risiko yang dihadapi bank syariah hampir sama dengan risiko pada bank konvensional. Sejatinya dalam hal ini ketika nasabah membatalkan transaksi maka bank tidak ada jaminan atas hal tsb maka disini bank akan mengalami kerugian dan itu adalah risiko nya, kedua ketika terjadi penyimpanan barang yang cukup lama maka bisa saja barang tersebut mengalami penyusutan nilai atas barang tersebut dan bank bisa saja mengalami kerugian dan menanggung risiko atas hal tersebut. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh mahasiswa UIN maulana Malik Ibrahim Malang, bahwa KUR Mikro Kecil iB merupakan salah satu pembiayaan yang paling banyak diminati di BRISyariah KCP Kepanjen, karena plafon pembiayaan yang ditawarkan KUR Mikro Kecil iB bisa mencapai 200 juta, sedangkan untuk KUR Mikro iB hanya mencapai maksimal 50 juta.

   Pandemic ini sangat memukul masyarakat yang menggantungkan kehidupan nya dibidang usaha yang memang mendatangkan keramaian seperti Wedding Organizer, Penyewaan Sound System dsb nya. Sehingga usaha yang mereka jalani sebelum pandemic ini menjadi tolak ukur penghasilan nya namun dimasa ini usaha atau kegiatan nya terhalang dengan kebijakan yang dikeluarkan pemerintah dengan tetap dirumah saja dan menjauhi kerumunan, akhirnya mereka mencoba dunia usaha baru, dan mengajukan pembiayaan kepada bank , khusus nya bank syariah itu sendiri. Berdasarkan hasil wawancara dengan Bapak Mikael Windy Harja selaku Account Officer KUR Mikro BRI Syariah KCP Kepanjen, sampai saat ini total nasabah pembiayaan KUR berjumlah 862 nasabah yang berasal dari beberapa sektor, diantaranya adalah sektor industri mikro (25%), sektor perdagangan (50%), jasa (15%), pertanian (5%), dan perikanan (5%), dan untuk saat ini hampir 80% nasabah pembiayaan KUR (terutama disektor perdagangan) terkena dampak akibat pandemi COVID-19 %. Dari hasil wawancara ini memang persentase dari pembiayaan yang dilakukan oleh bank syariah itu sendiri dari nasabah yang memang terdampak akibat pandemic COVID 19. Maka

blogFlc
Author: blogFlc

Tags:

Leave a Reply

Your email address will not be published.