Green Sukuk, Instrumen Keuangan Syari’ah Penyelamat Bumi

blogFlc 0

Oleh : Ahmad Tantowi Jauhari

(Mahasiswa Sekolah Tinggi Ekonomi Islam (STEI) SEBI, Depok)

Dewasa ini pembangunan yang hanya berfokus untuk pertumbuhan ekonomi telah mendapat banyak kritikan, terutama pembangunan yang tidak memperhatikan dampak terhadap lingkungan. Penggunaan sumber daya alam yang massif seperti bahan bakar fosil dan pembakaran hutan untuk kepentingan industri yang menjadi penyebab masalah alam yang semakin kompleks.

Kondisi ini akan berdampak pada kenaikan suhu rata-rata di bumi. Dampak yang saat ini telah banyak yaitu banyaknya banjir, perubahan curah hujan, serta bencana yang menyangkut cuaca seperti penyediaan makanan dan minuman. Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bahwasanya terjadi kekeringan yang melanda 28 provinsi, dengan luas wilayah 11.774.437 ha yang mengancam lebih dari 48 juta jiwa selama musim kemarau mulai Juli hingga Oktober 2019.

Dengan adanya komitmen dari Pemerintah Indonesia untuk menangani hal tersebut, Pemerintah pada tahun 2018 membuat kebijakan alternatif dengan menerbitkan Surat Berharga Syari’ah Nasional (SBSN) atau sukuk yang berfokus menangani masalah lingkungan yang dikenal dengan green sukuk.

Menurut Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) dana akan di alokasikan kepada lima sektor, yaitu ketahanan terhadap perubahan iklim untuk daerah rentan bencana, transportasi berkelanjutan, pengelolaan energi dan limbah, pertanian berkelanjutan, dan energi terbarukan yang tersebar di Kementrian. Kehadiran instrumen green sukuk merupakan terobosan baru dari Pemerintah Indonesia dalam menangani masalah lingkungan.

Berdasarkan dari Kementerian Keuangan pada tahun 2018 Pemerintah Indonesia menerima penghargaan dari Internasional Financing di Hong Kong sebagai Islamic Issue of The Year karena komitmen Pemerintah untuk mengurangi kerusakan alam pada kancah Internasional. Pada pertemuan tersebut Pemerintah Indonesia juga menyabet sebagai The world’s first sovereign green sukuk sebuah bentuk apresiasi kepada Pemerintah Indonesia sebagai negara yang menerbitkan green sukuk pertama di dunia.

Dengan potensi yang cukup besar, green sukuk akan menjadi prioritas bagi para investor baik di pasar domestik maupun internasional dalam jangka panjang. Dengan penerbitan green sukuk nantinya akan memberikan kontribusi terhadap pengembangan keuangan syari’ah sekaligus mengatasi masalah lingkungan yang semakin memburuk.

Tidak hanya itu, pada awal November 2019, Pemerintah Indonesia memberi kesempatan kepada seluruh rakyat Indonesia untuk membiayai proyek lingkungan dengan menerbitkan Sukuk Tabungan seri ST006. Sukuk Tabungan tersebut ditawarkan kepada investor individu (ritel) dengan minimal investasi cukup terjangkau yaitu satu juta rupiah untuk setiap investor. ST006 diharapkan dapat meningkatkan minat dalam berinvestasi serta menumbuhkan ekonomi masyarakat selain merawat lingkungan.

Kontribusi green sukuk dalam pembangunan lingkungan di Indonesia cukup signifikan. Berdasarkan data Data Pusat Statistika (DPS) pada tahun 2018 total nilai proyek yang terkumpul pada tahun 2018 adalah sebesar Rp 16.75 triliun. Dana tersebut digunakan untuk membiayai proyek-proyek APBN tahun anggaran 2018 sebesar Rp 8.2 triliun dan tahun 2016 sebesar Rp 8.5 triliun.

Oleh karena itu, diharapkan Pemerintah Indonesia lebih intensif dalam mensosialisasikan green sukuk kepada masyarakat serta memberikan kebijakan kepada para pelaku ekonomi untuk lebih memperhatikan lingkungan dalam melakukan pembangunan ekonomi. Dengan langkah tersebut diharapkan dapat menyelamatkan bumi dari kerusakan alam yang lebih buruk.

blogFlc
Author: blogFlc

Leave a Reply

Your email address will not be published.