Manajemen Risiko Bagi UMKM di Masa Pandemi

blogFlc 0

Manajemen Risiko Bagi UMKM di Masa Pandemi

 

Oleh : Syafiq Robbani

 

Pandemi COVID-19 saat ini memiliki dampak besar pada pembangunan ekonomi di seluruh dunia. Meski mencatat sejarah, perubahan kondisi ekonomi sering terjadi, mempengaruhi negara, benua, atau bahkan secara global.

Perubahan kondisi ekonomi yang tiba-tiba atau berubah-ubah dapat menyebabkan kerugian. Bentuk kerugian dapat diukur dari tingkat penurunan pertumbuhan ekonomi suatu negara, dengan menggunakan ukuran yang membandingkan satu atau lebih periode sebelumnya. Secara keseluruhan, skala nominal juga diciptakan oleh besarnya kerugian penerimaan negara dan stagnasi dalam kegiatan ekonomi. Hal ini tentunya memberikan efek domino di beberapa daerah. Itu bisa di area kecil atau di sebagian besar area.

Penilaian ketidakstabilan ekonomi karena resesi masa lalu atau penyebab lainnya. Hasil berupa perlambatan pertumbuhan ekonomi menunjukkan bahwa hal itu dapat menjadi risiko nyata atau kerugian. Namun, teknologi saat ini memerlukan tindakan pencegahan dan mitigasi khusus dan tidak umum untuk mencegah risiko di masa depan, sehingga tidak mungkin untuk memprediksi secara andal risiko apa yang akan terjadi di masa depan. Kebijakan inovatif untuk penanganan yang efektif dan efisien sangat penting untuk risiko tertentu.

Indonesia juga terpukul oleh dampak wabah COVID 19 yang menimbulkan kerugian baik bagi pemerintah maupun swasta. Bahkan, industri dan UKM mengalami penurunan penjualan dan penghentian dukungan operasional. Oleh karena itu, PHK karyawan merupakan salah satu risiko tambahan yang merugikan masyarakat, seperti pekerja harus kehilangan mata pencaharian dan pekerja pabrik.Kerentanan UMKM

Dalam hal UMKM, sektor ini membantu menarik sekitar 117 juta pekerja pada tahun 2018, dengan sekitar 91% dari karyawan usaha mikro. Pada tahun 2018, Kementerian Usaha Mikro Kecil dan Menengah (MPMI) berkontribusi sekitar 57,8% terhadap perekonomian Indonesia senilai Rp 8,57 miliar.

Pemerintah akan mengambil langkah-langkah untuk membantu UMKM bertahan hidup melalui demonstrasi agar Program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) tetap tepat dan dapat memenuhi kebutuhan masyarakat dalam kondisi peristiwa ekonomi terkini. Alokasi anggaran pemerintah untuk insentif sektor UKM, bisnis, dan bisnis tahan lama masing-masing sebesar Rp11,82 triliun, Rp62,22 triliun, dan Rp120,61 triliun. Penataan kembali program PEN menunjukkan komitmen pemerintah untuk memastikan APBN berfungsi optimal untuk mengatasi dampak pandemi (APBD kita, November 2020).

Untuk dukungan tersebut, perlu juga dibentuk manajemen risiko di sektor yang dibiayai pemerintah untuk mengoptimalkan program PEN. Manajemen risiko tentunya berlaku untuk instansi pemerintah, besar, menengah dan industri. Pertanyaannya adalah apakah manajemen risiko berlaku untuk sektor UKM. Apakah sektor UKM benar-benar beroperasi dalam skala kecil dengan anggaran terbatas?

Dalam International Journal of Risk and Contigency Management “An Empirical Take on Qualitative and Quantitative Risk Factors”, menjelaskan bahwa isu risiko sangat penting yang dapat mempengaruhi pencapaian target proyek dalam periode tertentu (Raghunath, Devi, Patro, Gayatri, 2017). Pendapat lainnya, risiko merupakan kejadian tidak pasti yang apabila terjadi maka akan menyebabkan efek baik negatif maupun positif bagi keberlangsungan organisasi (Clifford, 2006). Oleh karena itu, seharusnya UMKM perlu menerapkan manajemen risiko berapapun kriteria berdasarkan modal awalnya.

Membangun manajemen risiko dalam UMKM bisa dibilang mudah. Misalnya, UMKM berurusan dengan perahu eceng gondok dalam negeri yang secara rutin diekspor. Anda perlu menyiapkan spreadsheet pencatatan risiko untuk mengidentifikasi risiko dan menghitung nilai kerugian serta cara mengatasinya. Risiko mungkin timbul dalam penyediaan bahan. Dengan kata lain, ini adalah peristiwa yang tidak terduga tetapi berdampak tinggi. Misalnya, bahan dalam stok rusak dan pemasok membutuhkan waktu lebih lama untuk mengirimkan bahan, yang mempengaruhi proses manufaktur. Risiko lain untuk menarik pelanggan adalah inovasi produk yang mereka pesan, tetapi pengrajin yang terampil salah pada tahap desain. Selain itu, ada risiko bahwa harga input akan naik karena kelangkaan dan penjualan produk yang tidak terduga.


Semua ini pasti melibatkan kerugian langsung atau tidak langsung untuk anggaran. Tambahan modal pemerintah, terutama selama pandemi saat ini, tidak mungkin memberikan manfaat atau tujuan yang teridentifikasi jika tidak digunakan dengan benar.

Perawatan seperti pencegahan dan mitigasi harus segera direncanakan untuk kondisi risiko ini. Perbaikan operasional, seperti inspeksi rutin dan pengawasan oleh pekerja tambahan, dapat menjadi solusi untuk menjaga tempat penyimpanan material dalam kondisi baik. Perlakuan lain, seperti pencegahan dengan memperbaiki sistem pelatihan atau menggunakan teknologi untuk meminta pesanan sesuai spesifikasi pelanggan, merupakan solusi untuk mencegah dan memitigasi risiko. Oleh karena itu, manajemen risiko harus diterapkan pada semua sektor, termasuk UKM, yang dapat mencapai harapan atau tujuan ke depan. Jika diterapkan secara menyeluruh, tentu akan berdampak positif bagi pembangunan ekonomi. *) Artikel ini adalah pendapat pribadi penulis.

Penerapan manajemen risiko yang berhasil ditunjukkan dengan adanya identifikasi dan analisis risiko sesuai tingkat kepentingannya. Risiko dimitigasi, dilacak, dan dikendalikan secara efektif. Permasalahan dicegah sebelum terjadi dan pegawai secara sadar fokus pada apa yang akan mempengaruhi pencapaian tujuan.

blogFlc
Author: blogFlc

Tags:

Leave a Reply

Your email address will not be published.